Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW 1432 H

alt

Kamis, 07 Juli 2011, bertempat di Masjid Ash  Shahabah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW 1432 H, mengambil tema “ Tingkatkan Sinergiritas Dalam Membangun Kampus Yang Berwibawa”. Peringatan Isra’ Mi’raj dibuka dengan di bacakannya Ayat Suci Al Qur’an oleh salah seorang mahasiswa M. Syukron. Dalam sambutannya Kepala Biro AUK Drs. Yono Surya, M.Pd.I, mengatakan bahwa kita harus dapat mengambil hikmah dari peringati Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Salah satu tujuan dari peringatan Isra’ Mi’raj adalah pencerahan keimanan, jika selama ini seorang dosen menceramahi, maka sekarang mereka ikut mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh penceramah. Lebih lanjut beliau mengatakan, agar seluruh komponen kampus dapat bersatu padu dalam menumbuh kembangkan kampus kebanggan kita ini.


Ustadz H. Edi Amin, S. Ag. M. Ag, dalam ceramahnya beliau mengupas tentang hikmah perjalanan Isra’ Mi’raj dan implikasinya bagi kehidupan kita sekarang. Perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah merupakan salah satu dari tiga peristiwa penting yang dialami Rasulullah. Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa yang senantiasa kita peringati, karena sebagai umat Muhammad kita harus menyakini peristiwa yang Beliau alami, dalam Qur’an Surah At Takwir :27, yang artinya “Kemana kamu akan pergi?”. kemana kita akhirnya akan pergi? kecuali menuju kepada Allah SWT. Lebih lanjut oleh ustadz H. Edi Amin, S. Ag. M. Ag mengatakan ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW.


1.buah dari keimanan yang kuat, Rasulullah adalah seseorang yang memiliki iman yang dalam kepada Allah SWT, iman yang dalam menyebabkan Rasulullah terpilih untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, sebagai contoh dalam kehidupan Rasulullah begitu setia kepada istrinya, selama 25 tahun Beliau hidup dengan Khadijah.


2.kejujuran (Shiddiq) Rasulullah, setelah Beliau melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj, Beliau menceritakannya kepada saudaranya apa yang telah ia jalani dalam waktu semalam. Sifat yang dimiliki Rasulullah selain shiddiq, istiqamah, Beliau adalah seorang konsisten dengan apa yang dia yakini, selanjutnya Fathanah atau cerdas, Rasulullah adalah seorang yang cerdas, dan sifat keempat tabligh atau komunikasi, dalam sebuah Hadis dikatakan seorang pembantu Rasulullah mengatakan” Aku menjadi pembantu Rasul, Demi Allah tidak pernah sekalipun Rasulullah menyenggakku”, terlihat bahwa Rasulullah tidak menggunakan kekerasan dalam  memerintah.


3.Ujian bagi Umat Muhammad SAW, setelah Rasulullah menceritakan pengalaman perjalanan Isra’ Mi’raj yang Beliau lakukan dalam semalam, terjadi perpecahan diantara umat Muhammad, yang menjadi lebih yakin misalnya, abu bakar, dan ada yang berpaling atau ingkar, dalam Surah Al Ankabut : 3-4


4.Risalah shalat, ketika Rasulullah mencapai lapisan langit, Beliau mendapat risalah untuk melaksanakan shalat sebanyak 50 waktu, kemudian beliau turun dan Nabi Ibrahim mengatakan “Umatmu tidak akan sekuat umatku”, maka Rasulullah kembali naik untuk meminta keringanan, begitu terus bolak-balik hingga akhirnya tinggal 5 waktu. Nabi Ibrahim menyuruh Rasulullah untuk kembali meminta keringanan, tetapi Beliau mengatakan, jika umatku mengerjakan shalat 5 waktu dengan sempurna, maka kebaikannya akan setara. Dalam sebuah hadis”dalam shalat ada obat penyembuh baik penyakit hati atau penyakit fisik”, Rasulullah bersabda “ dalam Shalat ada penawar penyembuh”.
Demikian besar hikmah yang dapat kita ambil dari peringatan Isra’ Mi’raj, semoga dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga kita termasuk umat yang yakin akan perjalanan yang dilakukan Rasulullah.


Dalam pengarahannya, Pgs. Rektor IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, mengajak  seluruh civitas kampus untuk bersama membangun visi kedepan, jika berpatok pada Rasulullah SAW, maka perlu pengalaman external untuk dapat memimpin umat. Rasulullah merupakan sosok the most successful leader,  Rasulullah tidak pernah duduk dibangku sekolah, tetapi dengan sifat-sifat yang Beliau miliki dan pengalaman yang Beliau peroleh, sehingga dapat membangun umat dengan paradigma baru, menghilangkan sekat-sekat klan, padahal Beliau masih merupakan titisan darah biru. Jika pemimpin kita dapat mendekati sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah tentunya sebuah institusi atau lembaga akan semakin efektif. Demi mewujudkan sebuah kampus yang berwibawa, semua civitas kampus harus bisa saling berhubungan dengan baik, sehingga dapat menjadi sebuah kampus kebanggaan umat.

Additional information